“Saat ini baru 50% yang sudah menjadi desa siaga, untuk itu tahun 2009 ditargetkan seluruh desa di tanah air sudah menjadi desa siaga,” kata Menkes Siti Fadilah Supari dalam sambutan tertulisnya pada Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-44 di Surabaya, Rabu (12/11).
Menkes dalam sambutan yang dibacakan Kepala Dinkes Jatim dr. Iwan Mulyono tersebut juga mengharapkan agar program kesehatan tahun 2009 mengarah pada kegiatan nyata yang berpihak kepada masyarakat.
Melalui tema HKN 2008 “Rakyat Sehat Kualitas Bangsa Meningkat” ini, sekaligus diharapkan akan meningkatkan kualitas bangsa, sebab kesehatan menjadi hal terpenting dalam pembentukkan SDM yang berkualitas.
Ia menjelaskan, dari berbagai studi menunjukkan ada korelasi positif antara kegiatan masyarakat dengan produktivitas masyarakat. Produktivitas merupakan perwujudan dari kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang baik, dan hal ini akan memperkuat ketahanan ekonomi suatu masyarakat serta ketahanan bangsa, dan dari ketahanan bangsa ini, suatu negara dapat diukur kualitasnya.
Selain itu, kualitas bangsa juga dapat diukur dari indek pembangunan manusianya. Ini merupakan komposisi dari indikator pendidikan serta perekonomian masyakatnya.
Di Indonesia, indek pembangunan manusianya lebih rendah dari neraga-negara lain di Asia, sebab kurangnya pelayanan kesehatan yang diterima oleh masyarakat. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya angka kematian ibu, serta kematian bayi karena kurang gizi dan gizi buruk yang mengancam masyarakat miskin dan kurang miskin.
Dalam beberapa tahun terakhir akses pelayanan kesehatan masyarakat kurang mampu telah dibenahi, dengan pelayanan yang luas seperti Jamkesmas, hal ini untuk meningkatkan kualitas bangsa secara langsung, sebab kemakmuran suatu bangsa tidak bisa diukur dengan pembangunan fisik, tapi juga pembangunan manusianya.
“Pelayanan kesehatan yang luas, akan mampu mengelola dan meningkatkan produktivitas bangsa, baik dari sektor ekonomi maupun fisiknya,” kata menteri.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Jatim Iwan Mulyono mengatakan Jawa Timur saat ini memiliki lebih dari 7.000 desa siaga. Untuk mengontrol perkembangan kesehatan di setiap desa, Dinkes Jatim bekerjasama dengan pemerintah kabupaten/kota, serta Dinkes setempat membuat lebih dari 4.000 pos layanan kesehatan yang berada dalam kontrol desa siaga. “Kegiatan yang ini dilakukan dari desa ini yakni sosialisasi kebersihan lingkungan melalui cara hidup sehat,” katanya.
Desa siaga merupakan gambaran masyarakat yang sadar, mau, dan mampu mencegah serta mengatasi berbagai ancaman kesehatan masyarakat seperti, kurang gizi, penyakit menular, perilaku kesehatan yang keliru, dan kejadian bencana.
”Peran desa siaga sangat penting, karena dapat mengontrol perkembangan kesehatan masyarakat. Tahun depan kami akan terus menambah jumlah desa siaga, sehingga setiap daerah memiliki desa siaga,” katanya.
Sedangkan dalam HKN ke 44 ini, Dinkes Jatim mengharapkan setiap komponen instansi di kalangan pemerintah dan seluruh masyarakat yang peduli kesehatan bisa bekerjasama, sebab dengan bekerjasama pasti kita bisa. Pembangunan yang tidak berwawasan kesehatan, akan menjadi lubang pelepasan yang sewaktu-waktu muncul penyakit. (T.mudjan/repda/toeb)